Telematika? Membangun Logistik di Asia Tenggara Ke Tingkat Lebih Tinggi

Ditulis oleh: Osman Husain on April 20, 2018

Bicaralah dengan sebagian besar pakar di Asia Tenggara tentang potensi ecommerce di kawasan ini dan mereka akan mengatakan dasar landasan yang sama: hambatan nyata terhadap pertumbuhan terutama terletak pada logistik yang tidak dapat mengimbangi pertumbuhan ecommerce.

Infrastruktur yang rusak, proses kepabeanan yang ketinggalan jaman, dan lanskap yang luas semuanya menambah skenario yang sangat suram untuk dikendalikan. Indonesia, misalnya, adalah pasar internet terbesar di Asia Tenggara dan diharapkan dapat mendorong pertumbuhan besar dalam industri ecommerce. Indikator ekonomi terlihat cerah dan konsumen memiliki pendapatan yang lebih tinggi.

Masalahnya? Indonesia adalah kepulauan besar yang terdiri dari 17.000 lebih pulau. Pengiriman ecommerce bisa memakan waktu hingga seminggu dengan logistik yang tidak memadai, membuat pelanggan frustrasi dan tidak yakin apakah mereka akan melakukan pembelian lagi.

Sama halnya dengan Filipina, yang memiliki lebih dari 7,000 pulau. Negara seperti Thailand mungkin secara geografis lebih mudah untuk dikendalikan namun bukan berarti tanpa tantang berarti sama sekali: Kerajaan ini menjadi negara dengan tingkat kecelakaan terbesar kedua di dunia, tepat dibawah Libya.

Sedangkan menambahkan lebih banyak kendaraan pengiriman dan mempekerjakan lebih banyak orang untuk mengirimkan barang tersebut juga tidak akan langsung memecahkan masalah. Di dalam industri logistik, ada masalah seperti pencurian bahan bakar, kurangnya kepatuhan terhadap peraturan dan regulasi keselamatan, dan pengendara yang gegabah. Masalah-masalah ini memerlukan biaya inheren untuk operator armada biasanya diteruskan kepada end consumer dalam bentuk ongkos pengiriman. Dan itu adalah biaya yang dapat dihindari.

Perusahaan Thailand, Drvr sedang mencoba untuk mengatasi tantangan ini secara langsung. Mereka menggunakan telematika, yang memungkinkan perangkat untuk mengirim dan menerima informasi dari jarak jauh, untuk melacak kinerja kendaraan, perilaku pengemudi, berhenti terjadwal, dan sebagainya. Drvr memasang berbagai sensor di dalam kendaraan untuk membantu manajer melacak armada dan juga menyediakan platform SaaS yang menampilkan keseluruhan dasbor. Ini dapat dimodifikasi dan disesuaikan sesuai dengan kebutuhan klien, salah satunya adalah Mercedes Benz.

CEO dan co-founder David Henderson, yang berasal dari Seychelles, pertama kali pindah ke Thailand pada tahun 2014 setelah bertugas di sebuah perusahaan telematika di Australia. Tantangan untuk memecahkan masalah besar di Asia sebagai motif utamanya – dia semula memberikan ide itu kepada perusahaan tempat dia bekerja sebelumnya, tetapi mereka tidak ingin mengambil reseko untuk untuk mewujudkan mimpinya tersebut. Jadi dia memutuskan untuk berhenti dan mewujudkannya sendiri.

“Produk yang kami miliki dua tahun lalu hanyalah sebuah produk pelacakan GPS,” David memberitahu ecommerceIQ. “Kami telah matang secara signifikan sebagai sebuah perusahaan sejak saat itu, dan rasanya sangat pantas untuk mengatakan bahwa kami memiliki salah satu platform armada dan IOT paling canggih di dunia saat ini.”

Dasbor analitik dari Drvr

Mengapa memulai di Thailand?

David menjelaskan bahwa target pasarnya bukan hanya sektor logistik, tetapi setiap bisnis yang memiliki dan mengoperasikan armada kendaraan besar. Ini bisa melibatkan pemain dalam transportasi serta konstruksi. Bisnis semacam itu perlu memperhatikan kesehatan kendaraan mereka untuk memastikan bahwa pengemudi dan staf pendukung aman terkendali.

Thailand adalah pasar alami bagi kami karena ada lebih dari 3 juta kendaraan yang diproduksi di sini setiap tahun dengan kendaraan komersial yang menyumbang setengah dari jumlah itu. Itulah alasan utama kami berbasis di sini, ” jelasnya.

Solusi inti Drvr bertujuan untuk membuat operator armada beroperasi secara efisien. Drvr mencapai ini melalui sejumlah cara – yang pertama, seperti yang disebutkan sebelumnya, adalah melalui platform analitik prediktif yang ditawarkannya. Aplikasi versi driver juga menggabungkan elemen gamification untuk membantu memberi pemahaman kepada driver agar mengikuti aturan. Ada hadiah setiap kali mereka mematuhi standar tertentu seperti pemeliharaan kecepatan rata-rata atau beristirahat sesuai jadwal – ini bisa dalam bentuk bonus tunai atau performance review, tapi disepakati bersama antara manajer armada dan driver. Perusahaan mengatakan ini membantu mengurangi unsur konfrontasi antara mereka dan HR.

“Salah satu contoh nyata yang dapat kami buktikan kepada pelanggan kami adalah dalam kasus pencurian bahan bakar. Pencurian BBM adalah masalah besar, tidak hanya di Thailand tetapi juga di seluruh dunia. Bentuknya bisa saja berbeda di setiap wilayah yang berbeda – [di Thailand] cenderung penyedotan tangki bahan bakar tetapi di Australia dan tempat-tempat lain […] orang cenderung menipu membeli bahan bakar atau mengisi mobil mereka sendiri dengan kartu kredit perusahaan. Kami dapat mendeteksi skenario ini dan mencegahnya agar tidak terjadi, ”kata David.

Sebelum Drvr datang, solusi umum untuk masalah ini adalah dengan perusahaan-perusahaan hanya akan membayar pengemudi mereka lebih rendah. Ini akan menyebabkan insentif ekonomi terdistorsi – pengemudi hanya akan membuat driver menjadi semakin menjadi dan mengambil lebih banyak bahan bakar dari tangki kendaraan dan menjualnya untuk mendapatkan uang tunai.

David tidak mengungkapkan berapa banyak pelanggan yang dia miliki saat ini tetapi dia mengatakan bahwa startup miliknya menghasilkan laba bulan lalu. Sementara mereka berbasis di Thailand, pasar terbesar saat ini adalah Myanmar dalam hal volume. Akan tetapi, Indonesia dan Filipina memiliki prioritas tinggi.

“Kami melihat Indonesia sebagai pasar penting di Asia Tenggara – secara volume, Indonesia adalah negara dengan potensi besar. Margin sedikit lebih rendah, harus diakui, tetapi ada peluang besar di sana, ”tambahnya.

“Pada saat yang sama sangat sulit untuk mendapatkan pijakan – kami telah gagal beberapa kali karena kesulitan menemukan mitra lokal yang handal. Jika Anda berhasil di Indonesia, itu adalah tanda besar untuk profil Anda. “

Tren apa yang dia perhatikan?

Perusahaan analisis armada bukanlah sebuah teknologi yang mencengangkan dan sebelumnya sudah ada beberapa perusahaan yang serupa seperti Cartrack dan Coolasia. Namun, bagi David, bagaimanapun juga mereka berusaha mengatur diri mereka jauh dalam kata menyuguhkan platform yang canggih dan partner mereka.

Truk Mercedes Benz, salah satu klien utama mereka, sebenarnya mengirimkan semua kendaraan di Myanmar dengan sensor Drvr yang sudah terpasang. Hal tersebut akan memberikan tingkat validasi tertentu ketika melempar ke perusahaan lain. Drvr juga membantu memfasilitasi pertumbuhan dari model kendaraan langganan – di mana pemilik armada memilih untuk ‘menyewa’ kendaraan dari produsen dibandingkan dengan membeli langsung dan kemudian harganya akan jatuh dan terus turun.

Skenario ini – yang diklaim David sudah terjadi di pasar seperti Australia – keharusan melakukan analisis yang tajam sehingga para manufaktur tahu cara menetapkan tarif dalam hitungan jam atau dalam skala perbulan. Analis perlu memahami biaya secara khusus dan melakukannya dengan hati-hati dengan memantau kendaraan yang ada untuk mencari tahu kapan dapat dianalisa seperti, berapa biaya bahan bakar, dan analisis prediktif lainnya.

Dia mengklaim Drvr bekerja dengan produsen yang tertarik dengan model ini – sensor dan analitik akan membantu mereka membangun model keuangan – tetapi dia tidak menyebutkan nama.

Apakah IOT akan melanda Asia?

Beberapa orang mungkin mencemooh tentang kendaraan komersial berteknologi tinggi yang ada di Asia mengingat betapa murahnya biaya tenaga kerja, tetapi David tidak percaya itu terlalu mengada-ada. Dia setuju pada kenyataan bahwa keharusan ekonomi, untuk saat ini, hilang tetapi katakanlah biaya perangkat dan penyediaan layanan “jauh lebih rendah daripada dulu.”

“Jika Anda dalam ecommerce atau logistik, kenyataannya adalah pelanggan mengharapkan barang akan dikirimkan pada hari yang sama atau secepat mungkin. Untuk membuat harapan tersebut menjadi nyata Anda tidak dapat mengijinkan para driver tidur ditepi jalan atau mencuri bahan bakar. Hal tersebut akan menghancurkan brand dan juga persepsi tentang layanan yang Anda miliki. Bahkan perusahaan-perusahaan Thailand yang paling kuno pun mulai menyadari hal itu, ”dia menjelaskan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *