eIQ Insights: Mengabaikan Kota Kecil di Wilayah ASEAN Dapat Menjadi Sebuah Kesalahan

Ditulis oleh: Cynthia Luo on April 17, 2018

Sering sekali terdengar kabar yang menyebutkan tentang kurangnya potensi Asia Tenggara sebagai pasar untuk ecommerce telah menjadi fragmentasi yang sulit. Indonesia, pasar terbesar di kawasan itu mungkin memiliki populasi lebih dari 263 juta individu tetapi sebagian besar penjualan ritel berasal dari ibukota negara, Jakarta (populasi: 10 juta).

Hal yang sama berlaku untuk Bangkok yang merupakan mega-city Thailand dan Manila untuk Filipina, serta Vietnam dengan Ho Chi Minh City.

Tetapi penelitian tahun 2017 dari Nielsen dan AlphaBeta menunjukkan bahwa kelas menengah di ASEAN, juga berkontribusi besar terhadap revenue (pendapatan) dan menjadi ‘hotspot’ bagi pertumbuhan ritel.

Permintaan untuk barang-barang seperti popok, detergen, cokelat, pelembab wajah sebenarnya menunjukan pertumbuhan yang lebih cepat di daerah kecil atau menengah – tempat dengan populasi di bawah 5 juta.

Banyak kota dan provinsi dalam daftar diatas mungkin tidak pernah muncul di dalam target para brand FMCG dan perusahaan yang akan terjun ke ASEAN dan ada banyak alasan yang muncul seperti:

  • Infrastruktur yang buruk
  • Kurangnya kematangan finansial
  • Akses broadband yang terbatas
  • Kekurangan daya beli

Tetapi ini adalah masalah yang juga terjadi di Tiongkok tetapi perusahaan ecommerce seperti JD dan Alibaba telah membuat inisiatif seperti “Rural Strategy” untuk mencakup 485 negara dan 25.000 desa di 29 provinsi untuk membangun ecommerce di daerah pedesaan.

Mengapa fokus pada wilayah yang lebih kecil?

Karena begitu pasar perkotaan jenuh, kota-kota pedesaan secara alami akan menjadi yang berikutnya.

The Fung Business Intelligence Centre memprediksi bahwa nilai transaksi pasar ecommerce pedesaan yang dikelola Alibaba akan melampaui daerah perkotaan lokal dalam 10-20 tahun mendatang dan menurut eMarketer, pada 2019 Tiongkok akan menambah 139 juta pembeli digital yang berasal dari daerah perkotaan yang kurang sebagai internet akses meluas.

Beberapa perusahaan di Asia Tenggara seperti perusahaan pembayaran online Kudo sudah mencari ke luar dan berhasil menghubungkan penduduk pedesaan dengan ritel modern. Tidak mengherankan jika pada akhirnya Grab mengakuisisi mereka awal tahun 2017 untuk mencapai ‘jutaan warga yang tidak memiliki rekening bank dan memberikan solusi di bagi mereka’.

Sementara semua orang berjuang untuk ‘kelas menengah yang sedang naik’, mungkin ini saatnya untuk mengamati daerah yang akan tumbuh menjadi daerah ‘kelas menengah’. Baru kemudian perusahaan dapat benar-benar memanfaatkan seluruh potensi pasar Asia Tenggara.

Comments are closed.