Tinjauan Pasar Internet Indonesia dan Apa yang Akan Datang

Ditulis oleh: Osman Husain on March 14, 2018

Indonesia bisa dibilang pasar internet paling penting di Asia Tenggara karena ukurannya yang besar, kelas menengah yang sedang berkembang, dan populasi yang cerdas secara digital.

Laporan ekosistem digital global tahunan oleh We Are Social mengatakan bahwa Indonesia memiliki 132,7 juta pengguna internet, yang menunjukkan tingkat penetrasi 50% dari populasi. 130 juta dari mereka menggunakan beberapa bentuk media sosial, menunjukkan bagaimana orang Indonesia terjebak dalam mendokumentasikan kehidupan mereka secara online atau menggunakan platform seperti YouTube untuk mengkonsumsi konten.

Sumber: We Are Social

Dengan separuh populasi Indonesia yang masih offline, ada potensi besar untuk usaha ecommerce, produsen smartphone, dan juga brand yang membangun produk untuk menarik kaum milenial di negara ini.

Negara lain di Asia Tenggara – Malaysia, Singapura, Thailand, dan Filipina misalnya – mungkin memiliki tingkat penetrasi internet yang lebih tinggi namun populasi mereka yang lebih kecil tidak dapat bersaing dengan Indonesia dalam hal volume.

Angka inilah yang memaksa investor untuk memperhatikannya.

Sebuah studi oleh Google dan AT Kearney menunjukkan bahwa aktivitas modal ventura di Indonesia telah berkembang 68 kali dalam lima tahun terakhir, terutama didorong oleh meningkatnya minat terhadap ecommerce dan ridesharing.

Total aktivitas VC dalam delapan bulan pertama 2017 tercatat sebesar USD $3 miliar dolar – lebih dari dua kali lipat jumlah keseluruhan tahun 2016, yaitu sebesar USD $1,4 miliar dolar.

Studi yang sama memperkirakan volume investasi di Indonesia akan terus meningkat di masa yang akan datang karena investasi VC sebagai persentase PDB (Produk Domestik Bruto atau GDP) di Indonesia sebenarnya lebih rendah dari pada rekan-rekannya di Asia Tenggara.

Sumber: Google / AT Kearney

Apa yang orang Indonesia lakukan di web?

Penduduk Indonesia menyukai internet. 79% responden survei dalam laporan We Are Social mengatakan bahwa mereka masuk ke web setidaknya sekali sehari. Waktu rata-rata harian yang dihabiskan online hampir 9 jam dengan waktu sekitar 5 jam didedikasikan untuk media sosial dan streaming musik.

Sumber: We Are Sosial

Mayoritas lalu lintas web di Indonesia berasal dari ponsel, yang difasilitasi oleh ketersediaan smartphone murah bagi penduduk Indonesia yang datang online untuk pertama kalinya; mengundurkan diri desktop dan PC/ komputer secara langsung.

Akses ke handphone juga membawa angun segar bagi para pengerak industri fintech karena hanya 36% orang Indonesia yang memiliki rekening bank dan hanya 3% memiliki kartu kredit. Jika platform e-wallet menjalankan tugasnya dengan baik, ada 125 juta pengguna mobile internet yang menunggu perbankan mudah (easy banking).

Orang Indonesia juga semakin banyak menggunakan internet untuk memulai perjalanan pembelian produk mereka. 45% dari netizen Indonesia mencari online untuk produk dan jasa yang akan mereka beli dengan jumlah yang sama di toko online dan sebanyak 40% melakukan transaksi ecommerce setidaknya satu kali dalam sebulan. 

Sumber: We Are Social

Kategori mode & produk kecantikan menarik jumlah belanja online tertinggi, hampir dua kali lipat dari barang elektronik meskipun memiliki ukuran keranjang lebih rendah daripada peralatan konsumen seperti ponsel, kamera, dan gizmos yang dapat dikenakan.

Diperkirakan orang Indonesia menghabiskan hampir USD $10,3 miliar dolar secara online pada 2017.

Sumber: We Are Social

Statistik menyebutkan, pasar Indonesia masih memiliki banyak ruang untuk berkembang.

Kompetisi diharapkan akan meningkat di tahun kedepan karena para pemain lama akan berusaha menjadi pemain utama dan terus mempersenjatai diri mereka. VC, yang berocokol di pasar tidak akan dapat mundur sekarang. Ada terlalu banyak orang dalam bisnis ini bagi mereka mempertimbangkan untuk hengkang. 

Perkembangan terakhir sudah menunjukkan bagaimana investor mengambil pandangan jangka panjang dari pasar. Alibaba menyuntikkan lebih dari satu miliar dolar di pasar lokal ecommerce Tokopedia tahun lalu. JD.com, saingan langsung Alibaba di Tiongkok, telah membuka pemenuhan ccenters di seluruh Indonesia dengan maksud untuk terus berkembang. Dan rumor unicorn Go-Jek dengan cepat berubah menjadi aplikasi super Wechat-esque ’super app’ dengan pengguna dapat melakukan segalanya mulai dari naik ojek hingga memangil tukang dan dan membayarnya melalui dompet elektronik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *