eIQ Insights: Tren Belanja Baru yang Keren Menurut Generasi Z

Ditulis oleh: Rara Kinasih on April 2, 2018

Brand team Google untuk Consumer Apps baru saja merilis laporan tentang definisi “Keren” untuk Generasi Z di Amerika Serikat. Secara ironis, Google telah menamai laporan tersebut It’s Lit.

Menurut para post-milenium – remaja berusia 13-17 tahun – keren, itu merupakan hal yang membuat mereka bersemangat dan menentukan brand mana yang akan mereka pilih untuk membelanjakan uang mereka. Generasi baru ini mendapatkan perhatian media karena pengaruh mereka sebagai penduduk asli digital dengan tingkat kesadaran brand yang tinggi. Mereka akhirnya menjadi gelombang pembeli berikutnya.

Generasi Z memiliki kekuatan untuk menentukan perusahaan mana yang memiliki kapasitas untuk melakukan dengan baik dan bisnis yang mana yang perlahan-lahan akan menjadi tidak relevan.

Ada sekitar 60 juta remaja Generasi Z di Amerika Serikat, lebih dari 25,9% dari mereka merupakan populasi dari negara tersebut. Secara kolektif, daya beli mereka mencapai US$44 miliar per tahun dan bisa mencapai US$200 miliar jika kita memperhitungkan dampaknya terhadap pembelian rumah tangga.

Pengaruh Amerika Serikat dapat disaksikan di seluruh Asia Tenggara dari selera musik dan tren fesyen hingga pilihan tempat makan, pebisnis harus menyadari apa yang anak muda sebut sebagai ‘keren’ di barat karena kemungkinan besar akan juga mengarah ke timur.

Jadi, apa yang para remaja lihat sebagai hal keren?

“Keren” dalam istilah Google berarti membawa kebahagiaan atau kebahagiaan yang menonjol dari yang lainnya.

Menurut remaja laki-laki berusia 13-17 tahun, mereka beranggapan bahwa: teknologi, olahraga / aktivitas luar ruang dan video game  sebagai hal yang paling keren (tidak ada yang mengejutkan) dan memilih aktivitas mereka berdasarkan teman dan tren.

Menurut gadis berusia 13-17 tahun, pakaian / mode / kecantikan, musik dan teknologi sebagai aktivitas yang paling keren karena cara itu membuat mereka merasa keren.

Merek seperti NYX sangat populer dikalangan gadis-gadis yang lebih muda karena harganya terjangkau, dijual di toko-toko massal contohnya seperti Target dan memiliki kehadiran online yang kuat, karena mereka memanfaatkan pengaruh blogger dan media sosial.

Dari merek-merek besar yang populer saat ini, Youtube digolongkan sebagai yang ‘paling keren’. Dari 10 teratas, enam di antaranya adalah kebutuhan akan media, yaitu Netflix, Xbox, Google, Playstation, GoPro, dan Chrome.

Sumber: It’s Lit report

Brand lain yang terdapat dalam daftar tersebut adalah brand konsumen dengan online presence yang kuat. Doritos, misalnya, merilis iklan viral selama Superbowl dan Oreo 2016 telah berhasil menemukan kembali identitas brand ‘pantry’ tradisionalnya untuk menjadi “seorang marketing yang tangkas dan produktif secara budaya”.

Berkat dorongan Oreo yang sangat agresif melalui kampanye mereka ”Putar, Jilat, Celup”di aplikasi mobile dan dan tweet cheek-in-tongue yang mendapatkan banyak atensi kalangan anak muda. Aplikasi ini menjadi sebuah brand game dengan kinerja terbaik yang pernah diluncurkan.

“Kami memiliki banyak brand dan budaya yang matang untuk berinovasi dan membuat merek tersebut lahir kembali dan populer, itu memberi angin segar bagi binis kami,” kata Dana Anderson, CMO dari Mondelēz International, perusahaan induk Oreo.

Penggunaan media sosial?

Bagi Generasi Z, media sosial adalah bahan konsumsi dan penghubung, bukan berbagi.

Platform media sosial paling populer lain saat ini adalah Snapchat, Instagram, dan Facebook. Dan sekarang ini banyak brand yang menjadikan mereka sebagai channel marketing potensial, hanya Facebook dan Instagram yang menjadi platform yang memiliki kemampuan untuk membuat targeted audience untuk iklan mereka, sedangkan Snapchat tidak memiliki kemampuan untuk secara akurat menargetkan audience tertentu.

Sumber: It’s Lit report

Alat-alat baru diciptakan untuk berbagai brand untuk beriklan mulai dari Instagram Story hingga Facebook Live. Selalu terhubung sepanjang waktu berarti konsumen Gen Z memiliki constant pulse terhadap tren. Di bawah ini adalah spektrum peringkat brand berdasarkan prevalensi mereka di dalam pikiran Generasi Z dari 122 merek secara total.

((Click untuk besarkan gambar)Sumber: It’s Lit report

Perusahaan teknologi dengan faktor ‘keren’:

  • Facebook
  • Instagram
  • Samsung
  • Amazon
  • Appel
  • Snapchat

Siapa yang kehilangan sedikit faktor ‘keren’?

  • Line (ini akan sangat berbeda di Asia, di mana 69% dari 1 miliar pengguna aktifnya berada)
  • Zara
  • Uniqlo
  • Lululemon
  • Supreme

Apa yang dapat dipetik oleh para pebisnis dari hal ini?

Generasi Z tidak pernah tahu dunia tanpa internet. Remaja di seluruh dunia saat ini menghargai rangsangan, kepuasan instan dan informasi dan pada akhirnya, mengubah cara brand memposisikan diri.

Konsumen Generasi Z akrab dengan mencari informasi dan produk teknologi, yang berarti bahwa brand perlu menarik gelombang baru konsumen ini dengan melampirkan pesan yang kuat ke produknya alih-alih mencoba mempromosikan item atau barang yang tidak berguna.

Ada beberapa cara-cara bagus untuk melakukan ini – lihat Nike – dan cara-cara yang mereka lakukan untuk memenangkah hati konsumen – pikirkan bencana PR Pepsi dengan Kendall Jenner.

Di antara 10 brand teratas yang dikenali Generasi Z, semuanya telah didokumentasikan untuk melakukan upaya untuk menarik konsumen yang bergantung secara digital melalui aplikasi, kampanye iklan viral, dan suara dari media sosial yang kuat.

Nike telah merilis strategi marketing yang buzzy seperti “kampanye Pro-hijab” dan menggunakan selebriti dengan profil tinggi di Asia untuk mempromosikan produk (Kiss My Airs). Perusahaan konsultan Accenture menemukan bahwa lebih banyak orang Amerika melakukan streaming melalui Playstation Vue dan Netflix, membuat TV kabel menjadi hal yang membosankan.

Populasi pemuda Asia Tenggara sangat tinggi, lebih dari 70% berusia di bawah 40 tahun dan mengalami peningkatan daya beli – diatur untuk berkontribusi 34% terhadap pertumbuhan konsumsi pada tahun 2030, dibandingkan dengan angka global 25%.

Demografis konsumen yang matang, dikombinasikan dengan fleksibilitas untuk berbelanja menandakan bahwa Generasi Z di Asia Tenggara memiliki kesempatan untuk menargetkan lebih awal, terutama mengetahui tren di luar negeri.

Temukan laporan dari Google It’s Lit Report di sini

Comments are closed.